Lawan Perang Dagang, China Ancam Jual Obligasi AS Miliknya

Jakarta, TujuanJP China merupakan kreditur asing terbesar untuk obligasi pemerintah Amerika Serikat. Akankah Negeri Tirau Bambu menghambat aliran dana dari keran surat utang ke Negeri Paman Sam?

Investor obligasi semakin khawatir dengan kebijakan China yang selama ini menjadi penggenggam sebagian besar surat utang negara AS yang biasa dikenal dengan US Treasury tersebut.

Sebuah laporan yang dikutip dari CNN.com menyebutkan, China akan mengkaji kembali nilai kepemilikan surat utang pemerintah AS yang dibeli di pasar. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kelanjutan hubungan antara kedua negara ekonomi terbesar di dunia itu, setelah sempat memanas karena persoalan perdagangan. TOGEL TERPERCAYA

Dalam sebuah laporan pada Rabu (10/1) dari seorang sumber yang terkait dengan persoalan tersebut, pemerintah China disebut-sebut berniat mengurangi jumlah utang pemerintah AS yang dibelinya.

Artikel tersebut dengan cepat menyebabkan aksi jual di pasar obligasi Treasury AS. Namun pada Kamis (11/1), lembaga di China yang mengelola kepemilikan mata uang asing meragukan laporan tersebut.

“Kami percaya bahwa pernyataan itu mungkin mengutip sumber yang salah,atau informasi palsu,” kata State Administration of Foreign Exchange dalam sebuah pernyataan, beberapa waktu lalu.

Sayangnya, bantahan tersebut tetap membuat pasar anjlok, dan tak mendorong harga treasury AS kembali bangkit. POKER TERPERCAYA

China memiliki sejumlah besar utang pemerintah AS. Data terakhir dari Departemen Keuangan mencatat sekitar US$1,2 triliun dan beberapa perkiraan lembaga independen menunjukkan bahwa nilainya bisa lebih tinggi lagi. Namun, tingkat pembelian Beijing melambat untuk sementara waktu.

Pasokan China yang besar di pasar utang AS merupakan produk sampingan dari sejumlah besar produk perdagangan yang dijualnya ke pihak Amerika Serikat.

Sejumlah dana yang dikeluarkan untuk produk-produk ini akhirnya menemukan jalan ke bank sentral China, dan akhirnya digunakan pedagang untuk membeli obligasi AS.

Pembelian obligasi AS menyebabkan nilai tukar dolar menguat terhadap yuan, dan telah membantu ekspor China dalam beberapa waktu terakhir.

Para investor khawatir jika China mengurangi pembelian obligasi AS, maka pemerintah AS harus mencari investor baru. Bahkan perlu meningkatkan tingkat bunga untuk menarik minat investor. Pada akhirnya, beban bunga utang AS akan meningkat lebih dari tingkat saat ini yang sebesar US$20 triliun.

Biaya utang yang lebih tinggi berdampak buruk, termasuk mengganggu alokasi belanja lain. Di sisi lain, bisnis dan konsumen juga berpotensi menghadapi beban biaya pinjaman yang lebih tinggi. Semua ini akan berpengaruh pada ekonomi AS, dan menyebabkan perlambatan aktivitas ekonomi.